Selasa, 19 Februari 2019

Harga Berkeadilan bagi Petani, Kualitas Kopi Terjamin

Jakarta, Kesan Coffee - Lima puluhan petani kopi yang berasal dari komunitas adat yang tersebar di Kabupaten Tana Toraja, Toraja Utara, dan Enrekang hadir mengikuti pelatihan   “*Meningkatkan Kapasitas serta Pengetahuan menjadi Petani Kopi yang Menjamin Kualitas Kopi Berdasarkan Participatory Guarantee System (PGS) atau Sistem Penjaminan Partisipatif sesuai dengan "Standar Nasional Indonesia (SNI)" di Pusat Pelatihan Balo’ Kada Mandatte di seberang Gunung Nona, Kabupaten Enrekang, Sulsel pada 12-14 Februari 2019.

Dalam pelatihan ini turut hadir Hamsir, S.Pd. M.Pd, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kab. Enrekang mewakili Bupati Enrekang. Hamsir, dalam sambutannya, menyatakan bahwa kopi Enrekang selalu diperhitungkan dalam kompetisi kopi, baik dalam kompetisi nasional maupun kopi internasional. Bahkan pernah menjadi juara pada kompetisi nasional. 

“Hal ini menjadi salah satu modal kita bahwa salah satu sektor yang sangat populer dan diharapkan berkembang pesat dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat adalah kopi,” ujarnya. 

Hamsir mengatakan kale Enrekang merupakan wilayah yang suburb until tanaman kopi. Kopi di Enrekang juga, katanya, rasanya bervariasi. Hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Enrekang sebab sebagai produsen kopi, mereka tidak perlu harus mengonsumsi kopi pabrikan atau kopi siap saji seperti kopi sachet. 

“Kita bersyukur sampai sekarang ini kalau ada hajatan tidak lagi menyuguhkan kopi sachet. Tapi sudah produk-produk dari Kab. Enrekang itu sendiri. Kita berharap tidak perlu lagi ada kopi-kopi instan yang datang, tapi kopi kita yang kita suguhkan,” sambung Hamsir.

Meskipun demikian, Masyarakat Adat khususnya petani kopi, baik di Enrekang, Toraya Utara dan Tana Toraya belum merasakan dampak kilaunya tambang emas hitam ini. Paslanya, harga kopi bagi para petani belum seimbang padahal mereka adalah produsen langsung. 

Keuntungan dari kopi mereka yang sudah menasional itu belum petani kopi rasakan. 


Pemerataan harga

Bibong sebagai fasilitator dalam pelatihan menyebutkan bahwa angka proyeksi konsumsi kopi di Indonesia pada 2018 mencapai angka 306.183 ton per tahun. Proyeksi tersebut akan terus meningkat hingga 2020.  

Sayangnya, besarnya jumlah konsumsi kopi di Indonesia belum berimbang secara baik bagi petani kopi khususnya di Enrekang, Tana Toraya dan Toraya Utara. Patola, salah satu petani kopi asal Enrekang menyatakan bahwa harga kopi saat ini belum mensejahterakan para petani kopi. 

Patola adalah salah seorang peseta pelatihan yang memiliki pengalaman langsung dalam memasarkan kopinya, kopi Benteng Alla. Dengan caranya sendiri, ia berusaha menerobos jalur monopoli targa yang membuat petani hanya menerima keuntungan yang jauh di bawl keuntungan para pengepul apalagi pengusaha seperti cafe.

Salah satu langkah yang dilakukannya untuk mendongkrak harga jual kopi Benteng Alla adalah dengan cara mengikutsertakan kopi Benteng Alla dalam kompetisi kopi pada 2016 di Bali. 

Dari enam varian kopi yang dimiliki komunitas adat di Benteng Alla, salah satunya lolos dalam kualifikasi lomba tersebut dan bahkan meraih juara pertama. Meskipun demikian, predikat juara pertama ternyata tidak serta-merta dapat mendongkrak harga penjualan kopi Benteng Alla. Kenaikan harga pasca kemenangan tersebut hanya sebesar Rp. 2.000 per kilogram di tangan petani. 

Sebaliknya kemenangan tersebut justru dinikmati para pengepul, kedai kopi hingga café-café besar yang tidak mengikuti proses mendampingi petani kopi Benteng Alla. Segmen tengah dan hilir ini berhasil mengatrol naik harga penjualan kopi Benteng Alla karena menawarkan label kopi juara, sehingga para penikmat kopi bersedia membayar mahal. 

Untuk itulah dalam sosialisasi PGS, Patola berharap bahwa kegiatan PGS dapat mengatrol naik harga kopi di level petani. Ia berharap bahwa harga beli kopi merupakan harga yang mensejahterakan semua segmen dalam bisnis kopi, baik petani, pendamping, pengepul, kedai kopi maupun café serta konsumen. “Harga yang sesuai dan berkeadilan tentu saja harus dirasakan semua pihak,” katanya. 


Sertifikasi

Produk yang bersertifikasi saat ini jauh lebih mudah diterima di pasaran. Sertifikasi menjadi bagian maupun kontrol yang penting bagi konsumen. Dengan adanya sertifikasi, konsumen menggangap bahwa produk tersebut layak masuk dalam keranjang belanja. Namun ketidaksiapan para petani untuk mengurus sertifikasi sebagai produsen menyebabkan ketidakseimbangan dalam menjemput pasar.

Hal tersebut diperparah dengan mekanisme sertifikasi yang dilakukan pihak ketiga dengan melihat petani dan konsumen sebagai objek sertifikasi, bukan subjek sertifikasi. Ditambah lagi proses sertifikasi yang rumit, panjang dan berbiaya mahal, sehingga menyebabkan petani kopi menyerah di tengah jalan dan menyebabkan produk sertifikasi dianggap barang mewah bagi petani kopi yang berasal dari komunitas adat.

Karena itu pada 2004, PGS hadir untuk proses penjaminan alternatif dan menjawab masalah sertifikasi bagi petani. PGS menekankan adanya partisipasi holistik meliputi konsumen, petani, LSM, instansi pemerintah dll., dan dengan prinsip transparansi, keberlanjutan, perdagangan yang berkeadilan, kesetaraan dan ramah lingkungan.

Bibong menjelaskan, PGS pertama kali diperkenalkan di Brazil. Indonesia sendiri mulai menerapkan PGS pada 2008. Sejauh ini hasil PGS yang dibangun adalah petani kopi di Toraja dan Enrekang sudah memiliki alur ketelusuran, kualitas, kuantitas asal-usul produk sehingga memiliki daya tawar yang baik di pasar lokal dan nasional. 


Perawatan

Dalam sosialisasi PGS, para peserta pun berbagi pengetahuan bagaimana mengolah kopi yang ideal sehingga menghasilkan bijih kopi yang baik untuk dijual ke pasaran dengan harga yang tinggi. Hal paling mendasar dari kopi adalah perawatan pohon kopi; kemudian pemetikan buah kopi haruslah chery merah, dan dilengkapi dengan perlakuan pasca panen. 

Thomas, peserta asal Toraja mengatakan bahwa kopi harus diperlakukan seperti anak sendiri karena kopi membutuhkan 16 unsur. Jika kopi dipelihara dengan baik maka kopi tersebut dapat memberikan cita rasa yang baik juga.

Di sisi lain, terkait kegunaan, Edi Kende’ Suma, seorang petani kopi menyatakan bahwa kopi adalah tambang emas hitam. Terdapat beberapa kegunaan kopi sebagaimana dikatakannya. Menurut Edi, kopi dapat digunakan sebagai obat sakit kepala serta dapat digunakan untuk mengobati kanker jika dikonsumsi tanpa gula. 

Soal kegunaan kopi, semuanya dapat dipergunakan maupun diperjualbelikan. Kulit kopi atau kaskara dapat digunakan sebagai obat sakit kepala. Ia bahkan bernilai jual. Harga kulit kopi saat ini, misalnya mencapai Rp. 15.000 per kilogram. Selain kulit, daun kopi juga berfungsi untuk mengobati sakit perut.


Penulis Fadhel Achmad

editor Jacob aman.or.id

Artikel ini juga dipublikasikan pada website aman.or.id

Sabtu, 05 Januari 2019

Tisane Dewi



Asam dan segarnya jeruk nipis namun tidak mendominasi rasa, disertai harumnya aroma kembang kamboja dan manis yang dikeluarkan oleh kayu manis menjadi pelengkap rasa dalam satu seduhan Tisane Dewi yang berwarna ungu dari kembang Telang.

Penamaan Tisane Dewi adalah untuk melengkapi Tisane Dewa yang penamaannya terinspirasi dari bahan baku dalam pembuatan seduhan ini. Yaitu, bunga kamboja. Bunga kamboja yang biasanya 

digunakan untuk ritual pemujaan Dewa - Dewi bagi masyarakat Hindu Bali menjadi salah satu alasan penggunaan kata ‘Dewa’.

Pembeda rasa antara Tisane Dewa dengan dewi hanyalah penggunaan salah bahan baku dalam seduhan ini, yaitu, jeruk nipis.

Secara tradisi, masyarakat Indonesia menggunakan jeruk nipis untuk berbagai keperluan seperti keperluan dapur sebagai penyedap rasa, membuat minuman, obat batuk, hingga kecantikan wanita seperti mencuci rabut dan masker.

Pada seduhan tisane, kita akan mendapatkan padanan Aroma jeruk nipis dan aroma bunga kamboja yang menyatu. Aromanya yang harum dan segar saat dihirup membuat tubuh menjadi rileks sehingga mengurangi tingkat stress.  

Manfaat Tisane Dewi

Dalam satu seduhan tisane dewa, tubuh akan mendapatkan 60an manfaat positif dari mengkonsumsi minuman ini, diantaranya adalah detoksifikasi, pembunuh sel kanker, antioksidan, memperbaiki kesehatan kulit, kaya akan vitamin A dan vitamin C serta mengatasi masalah kewanitaan.
Manfaat tersebut di dapatkan dari bahan baku tisane dewa yang terdiri dari Kembang Kamboja, Kembang Telang, Lemon serta Kayu Manis.


*fdl*


Jumat, 04 Januari 2019

Tisane Dewa


Bahan Baku Tisane Dewa

Ungu nan harum dengan aroma khas kembang kamboja disertai asamnya lemon serta manisnya kayu manis tergabung dalam satu seduhan, yaitu, Tisane Dewa.

Penamaan Tisane Dewa terinspirasi dari bahan baku yang digunakan dalam pembuatan seduhan ini. Kembang kamboja yang biasanya digunakan untuk ritual pemujaan dewa bagi masyarakat Hindu Bali menjadi salah satu alasan penggunaan kata ‘Dewa’.


Bunga Kamboja yang selama ini memiliki stigma sebagai kembang penghuni pemakaman, namun kembang saat kembang tersebut berada di tangan Fadhel Achmad yang merupakan salah satu pendiri Kesan Coffee diubah menjadi minuman yang penuh manfaat positif bagi kesehatan tubuh.

Aroma kamboja yang harum membuat tubuh menjadi rileks saat wangi tersebut dibawa oleh indra penciuman yang kemudian direspon oleh otak sehingga meredakan stres.

Tisane Dewa

Manfaat Tisane Dewa

Dalam satu seduhan tisane dewa, tubuh akan mendapatkan 50an manfaat positif dari mengkonsumsi minuman ini, diantaranya adalah detoksifikasi, pembunuh sel kanker, antioksidan, memperbaiki kesehatan kulit, kaya akan vitamin A dan vitamin C serta mengatasi masalah kewanitaan.
Manfaat tersebut di dapatkan dari bahan baku tisane dewa yang terdiri dari Kembang Kamboja, Kembang Telang, Lemon serta Kayu Manis.



*fdl*

Kembang Telang. Si Ungu dengan Puluhan Manfaat Bagi Tubuh.

Butterlfy Pea (inggris), Clitoria ternatea (latin) atau dengan nama kampung Bunga Telang. Bunga Telang merupakan salah satu tanaman yang memiliki banyak manfaat. Si ungu nan cantik ini dapat dimanfaatkan sebagai seduhan (tisane) maupun sebagai pewarna makanan alami.


Merambat, kombinasi hijau dan ungu menghias lokasi rambatannya. Setiap hari, kelopak berwarna ungu terus bermekaran. Beberapa jenis tawon dapat kita temui menghinggapi kelopak bunga.

Secara tradisional, kembang telang dimanfaatkan untuk mebasuh mata bagi bayi new born dan orang dewasa. Pemanfaatan ini diwariskan secara turun temurun.

Pemanfaatan telang ke kinian

Kini, pemanfaatan kembang telang merasuk di segmen-segmen modern dengan cara diseduh sebagai minuman. Ada yang menyebut magic tea, purple tea, widow tea namun secara jamak ada juga yang menyebut sebagai tisane yang dicampur dengan beberapa jenis bunga lainnya maupun rempah menjadi tisane.
Tambahan bahan baku lainnya dalam seduhan tersebut dapat disesuaikan dengan selera para penikmat karna kembang telang hanya memberi warna nan cantic tanpa merubah rasa air.

Khasiat kembang telang

Dikutip dari manfaat.co.id, kembang telang memiliki 18 manfaat sebagai berikut ini, yaitu, Memperbaiki penglihatan, meningkatkan pertumbuhan rambut, memperbaiki kesehatan kulit, mengatasi masalah kewanitaan, sumber antioksidan, sumber antiinflamasi, mengatasi ganguan pernafasan, anti HIV dan Kanker, mengatasi kerontokan rambut, mengatasi hipertensi, mengatasi demam, mengatasi dimensia, menyembuhkan sakit kepala, mengobati gigitan serangga, mengatasi sakit telinga, antimikroba serta menjaga kesehatan jantung. 

untuk mendapatkan manfaat dari kembang telang sehingga kita dapat mengobati berbagai penyakit, menjaga kesehatan kulit dan rambut hanya dengan cara meminum, seperti tisane dewa. 

*fdl*

Kamis, 03 Januari 2019

Tisane

Golden Tisane

Tisane atau yang biasa dikenal dengan Teh herbal adalah sebutan untuk seduhan atau ramuan dengan komposisi bunga, daun, biji, akar, rempah-rempah maupun buah kering untuk membuat minuman. tisane biasanya diseduh dengan air panas. 

Istilah tisane berasal dari bahasa Yunani. Kata ini digunakan untuk menyebut minuman yang dibuat dari seduhan tanaman barley. Tetapi definisi tisane saat ini jauh lebih luas. Menurut Lindsey Goodwin, pakar kopi dan teh kepada About.com, semua jenis minuman yang terbuat dari seduhan atau rebusan herbal selain camellia Sinensis bisa disebut tisane.

pembuatan Tisane dapat dikombinasikan sesuai dengan kegemaran setiap orang, seperti tisane dewa ala Kesan Coffe yang menggunakan bahan baku seperti lemon, kembang telang, bunga kamboja dan kayu manis. 


setiap seduhan tisane mempunyai manfaat postif terhadap tubuh, hal ini dikarenakan bahan baku yang digunakan dalam seduhan tisane memiliki manfaat yang alami.  pemilihan bahan baku untuk seduhan dapat disesuaikan dengan selera maupun kebutuhan asupan vitamin atau kebutuhan tubuh untuk menjaga kesehatan, vitalitas dan lainnya.

*fdl* 

Harga Berkeadilan bagi Petani, Kualitas Kopi Terjamin

Jakarta, Kesan Coffee - Lima puluhan petani kopi yang berasal dari komunitas adat yang tersebar di Kabupaten Tana Toraja, Toraja Utara, dan ...